Langsung ke konten utama

Akibat Malas Mandi

 

“Selamat pagi teman-teman!” sapa kucing berwarna abu sambil mengibaskan ekornya yang berbulu tebal. Bulunya yang berwarna abu-abu cukup membuat dirinya terkenal, karena di sekitar rumahnya hanya dirinyalah yang memiliki bulu tebal dan berwarna abu-abu.

“Bulu kamu menarik, belum pernah aku melihat kucing berbulu tebal seperti kamu. Warna bulumu juga bagus.” Kucing-kucing lain sering melontarkan pujian kepada kucing abu. Hal itu tentu saja membuat kucing abu sangat bangga dengan bulunya tersebut. Dia bahkan sering mematut diri di depan cermin, mengagumi keindahan dirinya dengan bulu abu-abunya. Pujian dari teman-temannya semakin sering terdengar dan hal itu membuat kucing abu tinggi hati. Dia merasa tidak ada kucing yang secantik dirinya. Sayangnya hal tersebut justru membuatnya tidak mau mandi. Alasannya tentu saja karena dirinya takut bulu-bulunya akan mengempis jika dirinya mandi hingga suatu ketika ketika dirinya sedang bermain bersama teman-temannya tiba-tiba,

“Ihh, kamu bau!” Seekor kucing yang kebetulan berada di dekatnya langsung beralih menjauh sambil menutupi hidungnya dengan tangannya.

“Ah, bau apanya?” sergah kucing abu. Dirinya tidak terima mendapatkan ungkapan seperti tadi. Selama bermain itu justru teman-teman yang lain seolah berusaha menjaga jarak dengan kucing abu. Kucing abu tidak merasa bahwa dirinya memang mengeluarkan bau yang tidak sedap dan itu mengganggu teman-temannya.

Semakin hari bau dari badannya semakin menyengat saja, tetapi kucing abu tetap tidak mempedulikannya. Dia tetap menjaga agar bulunya tetap mengembang dan terlihat tebal. Kucing abu tetap tidak mau mandi meskipun teman-temannya mulai menjauhinya.

“Ah, mereka hanya iri padaku saja.” Kucing abu tetap tidak mau mendengar masukan dari teman-temannya. Bahkan tadi pagi salah satu kucing berbaik hati memberitahunya bahwa dirinya harus mandi untuk menghilangkan bau badannya tersebut, tetapi dasar kucing abu keras kepala makanya dia tetap tidak menghiraukan nasihat temannya tersebut.

“Kamu berharap buluku menjadi tidak lebat lagi kan, makanya menyuruh aku mandi?” Kucing abu justru membalas nasihat temannya tersebut dengan kalimat yang tidak bersahabat. Kucing belang yang tadi berniat membantunya itu akhirnya memilih pergi. Kucing belang tidak pernah berniat jahat kepada kucing abu, tetapi kalimat kucing abu telah membuatnya sedih sehingga dia memilih menjauh saja.

Sudah berminggu-minggu kucing abu tidak mau mandi, hingga pada suatu siang ketika selesai bermain sendiri kucing beristirahat. Udara yang sangat panas menyebabkan tubuhnya berkeringat.

“Ah, gerah sekali,” keluh kucing abu sambil menggoyangkan tubuhnya, berharap dengan begitu badannya lebih terasa dingin. Bukannya semakin nyaman justru kucing abu merasa sekujur tubuhnya gatal. Kucing abu berlari mendekati pohon akasia yang ada di dekat rumahnya. Kucing abu lantas menggosok-gosokkan tubuhnya pada pohon akasia tersebut. Setelah menggosokkan tubuhnya pada batang pohon, kucing abu merasa gatal di tubuhnya berkurang sehingga merasakan kantuk dan tertidur di bawah pohon akasia tersebut. Tak berapa lama kemudian kucing abu terbangun dan tidak bisa tidur lagi karena sekujur tubuhnya terasa sangat gatal. Kucing abu menggosokkan tubuhnya di pohon akasia berulang kali. Berharap rasa gatal itu akan berkurang seperti yang telah dilakukannya tadi. Sayangnya rasa gatal itu semakin menjadi-jadi sehingga kucing abu tak tahan lagi. Kucing belang tak sengaja melewati kucing abu yang masih tampak gelisah.

“Kamu kenapa, kucing abu?” sapa kucing belang khawatir. Kucing belang sudah melupakan perkataan kucing abu kemarin dulu. Kucing abu tidak pernah menyimpan dendam pada kucing abu.

“Aku merasa tubuhku sangat gatal, kucing belang,” jawab kucing abu masih dengan tubuh gelisah menahan gatal. Kucing belang merasa prihatin dengan kucing abu. Dia tidak tahu harus bagaimana untuk membantu kucing abu, karena dirinya tidak pernah merasakan gatal di tubuhnya.

“Aku sebenarnya ingin membantumu kucing abu, tetapi aku tidak tahu harus bagaimana, karena aku belum pernah mengalami hal tersebut. Selama ini aku tidak merasa gatal di tubuhku seperti yang kamu rasakan itu. Kucing belang mencoba berempati.

“Oh, iya aku ingat. Aku pernah merasa gatal setelah aku bermain seharian di panas terik dan bermain di lapangan berdebu, tetapi setelah aku mandi badanku segar kembali. Coba kamu mandi wahai kucing abu.” Kucing belang menceritakan pengalamannya. Kucing belang yang sudah tidak tahan segera berlari ke kolam yang berada di dekat lapangan tempat mereka biasanya bermain. Kucing abu langsung menceburkan dirinya tanpa mempedulikan apakah bulunya akan tetap bagus atau tidak. Kucing abu merendam tubuhnya dan menggosok-gosok tubuhnya sampai bersih. Tak berapa lama kucing aku keluar dari kolam dan mengibaskan badannya supaya lekas kering.

“Ah, segar sekali,” seru kucing abu. Kucing belang yang dari tadi mengikuti kucing abu turut merasa lega. Kucing abu menyadari bahwa selama ini dirinya salah dan meminta maaf kepada kucing belang karena pernah berkata buruk padanya. Kucing belang tersenyum mengangguk.

“Tidak apa-apa, yang penting sekarang kamu sudah mengerti bahwa mandi sangat bermanfaat untuk menjaga kebersihan tubuh kamu,” jawab kucing belang ramah. Sejak saat itu kucing abu rajin mandi, dan ternyata selain tubuhnya menjadi lebih segar dan tidak gatal lagi, mandi dan rajin membersihkan tubuh justru membuat bulu abunya semakin berkilau. Kucing abu tidak malas mandi lagi.

Komentar