“Selamat pagi teman-teman!” sapa kucing berwarna abu sambil
mengibaskan ekornya yang berbulu tebal. Bulunya yang berwarna abu-abu cukup
membuat dirinya terkenal, karena di sekitar rumahnya hanya dirinyalah yang
memiliki bulu tebal dan berwarna abu-abu.
“Bulu kamu menarik, belum pernah aku melihat kucing berbulu tebal
seperti kamu. Warna bulumu juga bagus.” Kucing-kucing lain sering melontarkan
pujian kepada kucing abu. Hal itu tentu saja membuat kucing abu sangat bangga
dengan bulunya tersebut. Dia bahkan sering mematut diri di depan cermin,
mengagumi keindahan dirinya dengan bulu abu-abunya. Pujian dari teman-temannya
semakin sering terdengar dan hal itu membuat kucing abu tinggi hati. Dia merasa
tidak ada kucing yang secantik dirinya. Sayangnya hal tersebut justru
membuatnya tidak mau mandi. Alasannya tentu saja karena dirinya takut
bulu-bulunya akan mengempis jika dirinya mandi hingga suatu ketika ketika
dirinya sedang bermain bersama teman-temannya tiba-tiba,
“Ihh, kamu bau!” Seekor kucing yang kebetulan berada di dekatnya
langsung beralih menjauh sambil menutupi hidungnya dengan tangannya.
“Ah, bau apanya?” sergah kucing abu. Dirinya tidak terima
mendapatkan ungkapan seperti tadi. Selama bermain itu justru teman-teman yang
lain seolah berusaha menjaga jarak dengan kucing abu. Kucing abu tidak merasa
bahwa dirinya memang mengeluarkan bau yang tidak sedap dan itu mengganggu
teman-temannya.
Semakin hari bau dari badannya semakin menyengat saja, tetapi
kucing abu tetap tidak mempedulikannya. Dia tetap menjaga agar bulunya tetap
mengembang dan terlihat tebal. Kucing abu tetap tidak mau mandi meskipun
teman-temannya mulai menjauhinya.
“Ah, mereka hanya iri padaku saja.” Kucing abu tetap tidak mau
mendengar masukan dari teman-temannya. Bahkan tadi pagi salah satu kucing
berbaik hati memberitahunya bahwa dirinya harus mandi untuk menghilangkan bau
badannya tersebut, tetapi dasar kucing abu keras kepala makanya dia tetap tidak
menghiraukan nasihat temannya tersebut.
“Kamu berharap buluku menjadi tidak lebat lagi kan, makanya
menyuruh aku mandi?” Kucing abu justru membalas nasihat temannya tersebut
dengan kalimat yang tidak bersahabat. Kucing belang yang tadi berniat
membantunya itu akhirnya memilih pergi. Kucing belang tidak pernah berniat
jahat kepada kucing abu, tetapi kalimat kucing abu telah membuatnya sedih
sehingga dia memilih menjauh saja.
Sudah berminggu-minggu kucing abu tidak mau mandi, hingga pada
suatu siang ketika selesai bermain sendiri kucing beristirahat. Udara yang
sangat panas menyebabkan tubuhnya berkeringat.
“Ah, gerah sekali,” keluh kucing abu sambil menggoyangkan tubuhnya,
berharap dengan begitu badannya lebih terasa dingin. Bukannya semakin nyaman
justru kucing abu merasa sekujur tubuhnya gatal. Kucing abu berlari mendekati
pohon akasia yang ada di dekat rumahnya. Kucing abu lantas menggosok-gosokkan
tubuhnya pada pohon akasia tersebut. Setelah menggosokkan tubuhnya pada batang
pohon, kucing abu merasa gatal di tubuhnya berkurang sehingga merasakan kantuk
dan tertidur di bawah pohon akasia tersebut. Tak berapa lama kemudian kucing
abu terbangun dan tidak bisa tidur lagi karena sekujur tubuhnya terasa sangat
gatal. Kucing abu menggosokkan tubuhnya di pohon akasia berulang kali. Berharap
rasa gatal itu akan berkurang seperti yang telah dilakukannya tadi. Sayangnya rasa
gatal itu semakin menjadi-jadi sehingga kucing abu tak tahan lagi. Kucing
belang tak sengaja melewati kucing abu yang masih tampak gelisah.
“Kamu kenapa, kucing abu?” sapa kucing belang khawatir. Kucing
belang sudah melupakan perkataan kucing abu kemarin dulu. Kucing abu tidak
pernah menyimpan dendam pada kucing abu.
“Aku merasa tubuhku sangat gatal, kucing belang,” jawab kucing abu
masih dengan tubuh gelisah menahan gatal. Kucing belang merasa prihatin dengan
kucing abu. Dia tidak tahu harus bagaimana untuk membantu kucing abu, karena
dirinya tidak pernah merasakan gatal di tubuhnya.
“Aku sebenarnya ingin membantumu kucing abu, tetapi aku tidak tahu
harus bagaimana, karena aku belum pernah mengalami hal tersebut. Selama ini aku
tidak merasa gatal di tubuhku seperti yang kamu rasakan itu. Kucing belang
mencoba berempati.
“Oh, iya aku ingat. Aku pernah merasa gatal setelah aku bermain
seharian di panas terik dan bermain di lapangan berdebu, tetapi setelah aku
mandi badanku segar kembali. Coba kamu mandi wahai kucing abu.” Kucing belang
menceritakan pengalamannya. Kucing belang yang sudah tidak tahan segera berlari
ke kolam yang berada di dekat lapangan tempat mereka biasanya bermain. Kucing
abu langsung menceburkan dirinya tanpa mempedulikan apakah bulunya akan tetap
bagus atau tidak. Kucing abu merendam tubuhnya dan menggosok-gosok tubuhnya sampai
bersih. Tak berapa lama kucing aku keluar dari kolam dan mengibaskan badannya
supaya lekas kering.
“Ah, segar sekali,” seru kucing abu. Kucing belang yang dari tadi
mengikuti kucing abu turut merasa lega. Kucing abu menyadari bahwa selama ini
dirinya salah dan meminta maaf kepada kucing belang karena pernah berkata buruk
padanya. Kucing belang tersenyum mengangguk.
“Tidak apa-apa, yang penting sekarang kamu sudah mengerti bahwa
mandi sangat bermanfaat untuk menjaga kebersihan tubuh kamu,” jawab kucing
belang ramah. Sejak saat itu kucing abu rajin mandi, dan ternyata selain
tubuhnya menjadi lebih segar dan tidak gatal lagi, mandi dan rajin membersihkan
tubuh justru membuat bulu abunya semakin berkilau. Kucing abu tidak malas mandi
lagi.
Komentar
Posting Komentar